Thursday, January 1, 2015

PROSES ASUHAN GIZI TERSTANDAR (PAGT)



PROSES ASUHAN GIZI TERSTANDAR (PAGT)


2.1.1 Proses Asuhan Gizi Terstandar (PAGT)           
Menurut American Dietetic Association (2006), PAGT adalah metoda pemecahan masalah yang sistematis, yang mana dietisien professional menggunakan cara berfikir kritisnya dalam membuat keputusan untuk menangani berbagai masalah yang berkaitan dengan gizi, sehingga dapat memberikan asuhan gizi yang efektif dan berkualitas tinggi (Sumapradja dkk, 2011).
Proses asuhan gizi hanya dilakukan pada pasien/klien teridentifikasi resiko gizi atau sudah malnutrisi dan membutuhkan dukungan gizi individual. Identifikasi resiko gizi dilakukan melalui skrining/penapisan gizi, dimana metodenya tergantung dari kondisi dan fasilitas setempat. Misalnya menggunakan Subjective Global Assessment (SGA) (Sumapradja dkk, 2011).

 


Pasien
Masuk

Monitoring dan Evaluasi

Pengkajian Gizi:
-Riwayat diet
-Antropometri
-Laboratorium
-Klinis-fisik
-Riwayat Pasien

Skrining
Gambar 3. Alur dan Proses Asuhan Gizi Terstandar


Diagnosis Gizi:
-Problem

-Etiologi

-Sign/
Simptoms

Pasien Keluar

Tujuan tidak Tercapai

Intervensi Gizi:
-Perencanaan
-Implementasi


Sumber : Sumapradja, dkk. 2011

Tujuan tercapai

Stop
 











Kegiatan dalam PAGT diawali dengan melakukan pengkajian lebih mendalam. Bila masalah gizi yang lebih spesifik telah ditemukan maka dari data objektif dan subjektif pengkajian gizi dapat ditentukan, penyebab, derajat serta area masalahnya. Berdasarkan fakta tersebut ditegakanlah diagnosa gizi kemudian ditentukan rencana intervensi gizi untuk dilaksanakan berdasarkan diagnosa gizi yang terkait. Kemudian monitoring dan evaluasi gizi dilakukan setelahnya untuk mengamati perkembangan dan respon pasien terhadap intervensi yang diberikan. Bila tujuan tercapai maka proses ini dihentikan, namun bila tidak tercapai atau terdapat masalah gizi baru maka proses berulang kembali mulai dari pengkajian gizi yang baru (Sumapradja dkk, 2011).

Proses asuhan gizi terstandar merupakan siklus yang terdiri dari langkah yang berurutan dan saling berkaitan yaitu:
1.    Pengkajian gizi
2.    Diagnosa gizi
3.    Intervensi gizi
4.    Monitoring dan evaluasi gizi
(Sumapradja dkk, 2011).

1)     Pengkajian Gizi
          Pengkajian gizi merupakan kegiatan mengumpulkan, mengintegrasikan dan menganalisis data untuk identifikasi masalah gizi yang terkait dengan aspek-aspek asupan zat gizi dan makanan serta aspek klinis dan perilaku lingkungan yang disertai penyebabnya. Langkah pertama PAGT ini merupakan proses yang dinamakan proses berkelanjutan, bukan hanya pengumpulan data awal tetapi merupakan pengkajian dan analisis ulang kebutuhan pasien. Langkah ini merupakan dasar untuk menegakkan diagnosis gizi. Data individual yang diperoleh langsung dari pasien/klien melalui wawancara, observasi dan pengukuran ataupun melalui petugas kesehatan lain atau institusi yang merujuk; rekamedis atau pemeriksaan laboratorium. Sementara untuk data kelompok (masyarakat) diperoleh melalui berkas dan administrasi serta data penelitian dan epidemiologi. Pengelompokan data pengkajian gizi awal, terdiri dari:
a.    Data antropometri
b.    Data biokimia
c.    Data fisik dan klinis
d.    Data riwayat gizi dan makanan
e.    Data riwayat personal pasien
(Sumapradja dkk, 2011).

2)    Diagnosa Gizi
            Langkah diagnosa gizi ini merupakan langkah kritis menjembatani antara pengkajian gizi dan intervensi gizi. Identifikasi masalah, penyebab dan hasil pengkajian gizi masalah tersebut. Melalui langkah ini, dietisien diarahkan untuk membuat prioritas dalam pelaksanaan intervensi gizi. Diagnosis gizi adalah kegiatan mengidentifikasi dan memberi nama masalah gizi yang actual dan atau beresiko menyebabkan masalah menanganinya secara mandiri. Diagnosis gizi diuraikan atas komponen masalah gizi (problem), penyebab masalah (etiologi) serta tanda dan gejala adanya masalah (sign & symptoms) (Sumapradja dkk, 2011).
Masalah gizi (problem) mengggambarkan masalah gizi pasien, dimana ahli gizi bertanggung jawab secara mandiri untuk memecahkannya. Maka dibuat :
a.  Tujuan dan target intervensi gizi yang lebih realistis dan terukur.
b.  Menetapkan prioritas intervensi atau penanganan gizi.
c.   Memantau dan mevaluasi perubahan yang terjadi setelah intervensi (Sumapradja dkk, 2011).

Penyebab masalah (etiologi) merupakan faktor penyebab yang memiliki kontribusi penyebab terjadi masalah. Penyebab dapat berkaitan dengan faktor fisiologis, sosial, lingkungan dan prilaku. Tanda dan gejala ada masalah (sign dan simptom) menunjukkan keadaan pasien, sign umumnya menunjukkan data objektif sementara simptom merupakan data subjektif. Sign dan simptom merupakan dasar monitoring dan evaluasi (Sumapradja dkk, 2011).
Penulisan diagnosis gizi disusun dengan urutan : Problem (P), Etiologi (E), Sign/Simptoms (S).

(P) berkaitan dengan (E) ditandai dengan (S)
 



Diagnosis gizi berbeda dengan diagnosa medis baik dari sifatnya maupun cara penulisannya. Diagnosis gizi dapat berubah sesuai dengan respon pasien, khususnya terhadap intervensi gizi yang dilakukan. Pengelompokan diagnosis gizi: domain asupan, domain klinis, domain perilaku lingkungan (Sumapradja dkk, 2011).
Intervensi adalah serangkaian aktivitas spesifik dan berkaitandengan penggunaan bahan untuk menanggulangi masalah. Aktivitas ini merupakan tindakan yang terencana secara khusus dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan gizi pasien, klien atau kelompok. Pemilihan intervensi gizi ditentukan oleh diagnosa gizi dan dapat menentukan dampak intervensi yang akan diukur dan dievaluasi kemudian. Semua tindakan intervensi dilakukan berdasarkan prinsip ilmiah dan rasional bila memungkinkan dibuat berdasarkan bukti penilitian (Sumapradja dkk, 2011).
Pelaksanaan intervensi dimulai dengan menetapkan tujuan, prinsip, macam diet, serta syarat diet. kemudian melakukan perhitungan kebutuhan enegi dan zat gizi serta menyusun menu dan waktu makan pasien (Sumapradja dkk, 2011).

Monitoring dan evaluasi gizi dilaksanakan untuk mengukur keberhasilan dari pemberian intervensi selama implementasi yang dilakukan. Jika tujuan tercapai, pasien diperbolehkan untuk pulang. Namun jika tujuan masih belum tercapai maka pasien kembali ke tahapan pengkajian gizi ulang atau kembali ke tahapan sebelumnya sehingga tujuan intervensi tercapai dan terlaksanakan (Sumapradja dkk, 2011).


PELAYANAN GIZI RUANG INAP DAN RAWAT JALAN

PELAYANAN GIZI RUANG INAP 

DAN RAWAT JALAN


Pelayanan gizi adalah suatu upaya memperbaiki, meningkatkan gizi, makanan, dietetik masyarakat, kelompok, individu atau klien yang merupakan suatu rangkaian kegiatan yang meliputi pengumpulan, pengolahan, analisis, simpulan, anjuran, implementasi dan evaluasi gizi, makanan dan dietetik dalam rangka mencapai status kesehatan optimal dalam kondisi sehat atau sakit (Kemenkes RI, 2013).
Pelayanan gizi di rumah sakit ini diberikan dan disesuaikan dengan keadaan pasien berdasarkan keadaan klinis, status gizi, dan status metabolisme tubuh. Keadaan gizi pasien sangat berpengaruh pada proses penyembuhan penyakit, sebaliknya kondisi penyakit juga dapat berpengaruh terhadap keadaan gizi pasien. Sering terjadi kondisi pasien yang semakin buruk karena tidak tercukupinya kebutuhan zat gizi untuk perbaikan organ tubuh yang mengakibatkan beberapa masalah gizi (Kemenkes RI, 2013).
Masalah gizi di rumah sakit dinilai sesuai kondisi perorangan yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi proses penyembuhan. Kecenderungan peningkatan kasus penyakit yang terkait gizi (nutrition-related disesae), memerlukan penatalaksanaan gizi secara khusus. Oleh karena itu dibutuhkan pelayanan gizi yang bermutu untuk mencapai dan mempertahankan status gizi yang optimal dan mempercepat penyembuhan (Kemenkes RI, 2013).


1.1  Tujuan Pelayanan Gizi

Pelayanan gizi di rumah sakit memiliki tujuan untuk terciptanya sistem pelayanan gizi yang bermutu dan paripurna sebagai bagian dari pelayanan kesehatan rumah sakit. Pelayanan yang bermutu dan paripurna tersebut dapat dilaksanakan dengan menyelenggarakan kegiatan pelayanan gizi yang meliputi asuhan gizi terstandar pada pelayanan gizi rawat jalan dan rawat inap, menyelenggarakan makan sesuai standar kebutuhan gizi dan aman dikonsumsi, menyelenggarakan penyuluhan dan konseling gizi pada klien/pasien pada klien/pasien dan keluarganya, serta menyelenggarakan penelitian aplikasi di bidang gizi dan dietetik sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Kemenkes, 2013).

1.2  Ruang Lingkup Pelayanan Gizi Rumah sakit

Kegiatan pelayanan gizi rumah sakit dilaksanakan untuk mencapai sistem pelayanan gizi yang bermutu dan paripurna. Ruang lingkup dari kegiatan tersebut, meliputi:
1.    Asuhan gizi rawat jalan
2.    Asuhan gizi rawat inap
3.    Penyelenggaraan makanan
4.    Penelitian dan pengembangan (Kemenkes, 2013).
Adapun mekanisme kegiatan pelayanan gizi rumah sakit tersebut dapat dilihat pada gambar 1.


Gambar 1. Mekanisme Pelayanan Gizi Rumah Sakit


Sumber : (Kemenkes RI, 2013)
















1.3  Uraian Tugas Tenaga Gizi dalam Pelayanan Gizi


Pelayanan gizi rumah sakit dilakukan sebagai bentuk upaya peningkatan status gizi dan kesehatan pasien baik di dalam maupun di luar rumah sakit. Peningkatan status gizi dan kesehatan tersebut merupakan tugas dan tanggung jawab tim asuhan gizi. Tim asuhan gizi merupakan seluruh tenaga kesehatan memegang peranan penting dalam mempercepat kesembuhan pasien.
Tim asuhan gizi merupakan tenaga kesehatan,meliputi:
1.  Dietesien/ahli gizi,
2.  Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP),
3.  Perawat,
4.  Ahli farmasi,
5.  Tenaga kesehatan lain (Kemenkes, 2013).

Komunikasi antar disiplin ilmu sangat diperlukan untuk memberikan asuhan yang terbaik bagi pasien. Sebagai bagian dari tim pelayanan kesehatan, dietisien harus berkolaborasi dengan dokter, perawat, farmasi dan tenaga kesehatan lainnya terkait memberikan pelayanan asuhan gizi. Oleh karena itu, perlu mengetahui peranan masing-masing tenaga kesehatan tersebut dalam memberikan pelayanan (Kemenkes, 2013). Tim asuhan gizi terdiri dari berbagai macam profesi yang mempunyai peran sebagai berikut:


a.  Dietesien/ Ahli gizi
1.  Mengkaji hasil skrining gizi dari perawat dan order diet dari dokter.
2.  Melakukan pengkajian gizi lanjut pada pasien berisiko malnutrisi, malnutrisi, atau kondisi khusus meliputi pengumpulan, analisa, dan interpretasi riwayat gizi/makanan, biokimia, antropometri, pemeriksaan klinis dan fisik, dan riwayat personal pasien.
3.  Mengidentifikasi dan menetapkan prioritas diagnosis gizi berdasarkan hasil pengkajian gizi.
4.  Menyusun intervensi diet meliputi tujuan dan preskripsi diet yang lebih terperinci untuk penetapan diet definitive serta merencanakan konseling gizi.
5.  Melakukan kerja sama dengan dokter terkait dengan diet definitive.
6.  Melakukan koordinasi dengan sesama anggota tim asuhan gizi untuk melaksanakan intervensi gizi
7.  Melakukan pemantauan respon pasien terhadap intervensi yang telah diberikan.
8.  Melakukan evaluasi terhadap proses dan dampak asuhan gizi yang diberikan.
9.  Melakukan edukasi gizi meliputi konseling dan penyuluhan pasien dan keluarganya.
10.  Mencatat dan melaporkan hasil asuhan gizi pada dokter.
11.  Melakukan pengkajian ulang jika tujuan tidak tercapai.
12.  Melakukan ronde pasien bersama tim.
13.  Berpartisipasi aktif dalam pertemuan atau diskusi yang dilakukan untuk mengevaluasi keberhasilan pelayanan gizi bersama Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP), perawat, ahli farmasi, dan tenaga kesehatan lain, serta pasien dan keluarganya.
(Kemenkes, 2013).

b. Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP)
1.  Bertanggung jawab dalam aspek gizi pasien yang terkait dengan aspek klinis.
2.  Menentukan preksripsi diet awal.
3.  Menetapkan diet definitive bersama dietisien/ahli gizi.
4.  Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarganya mengenai peran asuhan gizi.
5.  Merujuk pasien yang membutuhkan asuhan atau konseling gizi pada dietisien/ahli gizi.
6.  Melakukan pemantauan dan evaluasi terkait masalah gizi secara berkala bersama selama masa perawatan (Kemenkes, 2013).
c.  Perawat
1.  Melakukan skrining gizi pasien pada awal perawatan.
2.  Merujuk pasien berisiko malnutrisi, malnutrisi, atau kondisi khusus ke dietisien/ ahli gizi.
3.  Melakukan pengukuran antropometri secara berkala meliputi berat badan dan tinggi badan pasien.
4.  Melakukan pemantauan, pencatatan asupan makanan, dan respon pasien terhadap diet yang diberikan, serta menginformasikan perubahan kondisi pasien kepada dietisien/ahli gizi.
5.  Memberikan motivasi pada pasien dan keluarga  terkait pemberian makanan melalui oral, enteral, dan parenteral.
     (Kemenkes, 2013).

d.  Farmasi
1.  Mempersiapkan obat dan zat gizi terkait seperti vitamin, mineral, elektrolit dan nutrisi parenteral.
2.  Menentukan kompabilitas zat gizi yang diberikan kepada pasien.
3.  Membantu mengawasi dan mengevaluasi penggunaan obat dan cairan parenteral oleh klien/pasien bersama perawat.
4.  Berkolaborasi dengan dietisien dalam pemantauan interaksi obat dan makanan.
5.  Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai interaksi obat dan makanan.
(Kemenkes, 2013).

e. Tenaga kesehatan lain
Tenaga kesehatan lain misalnya adalah tenaga terapi okupasi dan terapi wicara berkaitan dalam perencanaan dan pelaksanaan intervensi pada pasien dengan gangguan menelan yang berat (Kemenkes, 2013).



1.4  Penyuluhan Kesehatan Masyarakat Rumah Sakit (PKMRS)


Penyuluhan Kesehatan Masyarakat Rumah Sakit (PKMRS) adalah penyuluhan kesehatan yang khusus dikembangkan untuk membantu pasien dan keluarganya untuk bisa menangani kesehatannya, hal ini merupakan tanggung jawab bersama berkesinambungan antara dokter dan pasien atau petugas kesehatan dengan pasien dan keluarganya. Penyuluhan kesehatan di Rumah Sakit berusaha menggugah kesadaran dan minat pasien serta keluarganya untuk berperan serta secara positif dalam usaha penyembuhan dan pencegahan penyakit sehingga penyuluhan kesehatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari program pelayanan rumah sakit (Maulana, 2007).
Rangkaian kegiatan penyuluhan terdiri dari persiapan penyuluhan dan pelaksanaan penyuluhan.
1)     Persiapan Penyuluhan :
-     Menentukan materi sesuai kebutuhan
-     Membuat susunan/outline materi yang akan disajikan
-     Merencanakan media yang akan digunakan
-     Pengumuman jadwal dan tempat penyuluhan
-     Persiapan ruangan dan alat bantu/media yang dibutuhkan
2)     Pelaksanaan penyuluhan :
-     Peserta mengisi daftar hadir (absensi)
-     Pemateri menyampaikan materi penyuluhan
-     Tanya jawab
Dalam suatu penyuluhan diperlukan evaluasi dengan tujuan untuk mengukur keberhasilan tujuan penyuluhan. Indikator atau kriteria yang akan dievaluasi disesuaikan dengan tujuan penyuluhan/ keinginan penyelenggara (Kemenkes, 2013).


Terdapat tiga jenis evaluasi yang dapat dilakukan, yaitu:
1)    Evaluasi Awal adalah penilaian yang dilakukan sebelum berlangsungnya penyuluhan. Penilaian dapat dilakukan terhadap ketepatan waktu berlangsungnya penyuluhan, sasaran, tempat penyuluhan, dan alat bantu/media yang dibutuhkan.
2)    Evaluasi proses adalah penilaian yang dilakukan pada saat penyuluhan berlangsung. Penilaian dapat dilakukan dengan cara mengamati situasi/kondisi saat penyuluhan berlangsung dan mengamati antusiasme audiens. Tingkat antusiasme audiens dapat dinilai dengan mengamati partisipasi audiens dalam mengajukan pertanyaan.
3)    Evaluasi akhir adalah penilaian yang dilakukan setelah penyuluhan berakhir. Penilaian dalam evaluasi akhir biasanya disesuaikan dengan tujuan diadakannya penyuluhan yaitu untuk meningkatkan pengetahuan audiens mengenai materi yang disampaikan. Penilaian pengetahuan audiens dapat dilakukan dengan cara memberikan pertanyaan kepada audiens mengenai materi penyuluhan yang telah disampaikan
(Maulana, 2007).


1.5  Pemberdayaan Pelayanan Gizi (Konseling)

Pemberdayaan pelayanan gizi konseling atau pelayanan gizi rawat jalan merupakan serangkaian proses kegiatan asuhan gizi yang berkesinambungan dimulai dari assessment/pengkajian, pemberian diagnosis, intervensi gizi dan monitoring evaluasi kepada klien/pasien di rawat jalan (Kemenkes RI, 2013).
Tujuan konseling gizi yaitu memberikan pelayanan kepada klien/pasien rawat jalan atau kelompok dengan membantu mencari solusi masalah gizinya melalui nasihat gizi mengenai jumlah asupan makanan yang sesuai, jenis diet yang tepat, jadwal makan dan cara makan, jenis diet dengan kondisi kesehatannya. Sasaran kegiatan ini yaitu pasien dan keluarga atau individu pasien yang datang atau dirujuk (Kemenkes RI, 2013).
Mekanisme pasien berkunjung untuk mendapatkan asuhan gizi di rawat jalan berupa konseling adalah sebagai berikut:
1.    Pasien datang ke ruang konseling gizi dengan membawa surat rujukan dokter dari poliklinik yang ada di rumah sakit atau dari luar rumah sakit.
2.    Petugas administrasi di ruang konseling mencatat data pasien didalam buku registrasi.
3.    Ahli gizi melakukan assessmen gizi dimulai dengan pengukuran antropometri pada pasien yang belum ada data BB, TB.
4.    Ahli gizi melanjutkan assessmen/pengkajian gizi berupa anamnesa riwayat makan, riwayat personal, membaca hasil pemeriksaan lab dan fisik klinis. Kemudian menganalisa semua data assessmen gizi.
5.    Ahli gizi menetapkan diagnosa gizi.
6.    Ahli gizi memberikan intervensi gizi berupa edukasi dan konseling dengan langkah menyiapkan dan mengisi leaflet sesuai penyakit dan kebutuhan gizi pasien serta menjelaskan tujuan diet, jadwal, jenis, jumlah bahan makanan sehari menggunakan alat peraga food model, menjelaskan tentang makanan yang dianjurkan dan tidak dianjurkan, mcara pemasakan dan lain-lain yang disesuaikan dengan pola makan dan keinginan serta kemampuan pasien.
7.    Ahli gizi menganjurkan pasien untuk kunjungan ulang, untuk mengetahui keberhasilan intervensi (monev) dilakukan monitoring dan evaluasi gizi.
8.    Pencatatan hasil konseling gizi dengan format ADIME (Assessmen, Diagnosis, Intervensi, Monitoring & Evaluasi) kemudian diarsipkan di ruang konseling.
(Kemenkes RI, 2013)
Pemberdayaan pelayanan gizi konseling atau pelayanan gizi rawat jalan merupakan serangkaian proses kegiatan asuhan gizi yang berkesinambungan dimulai dari assessmen/pengkajian, pemberian diagnosis, intervensi gizi dan monitoring evaluasi kepada klien/pasien di rawat jalan (Kemenkes RI, 2013).
Gambar 2. Mekanisme Pelayanan Konseling gizi
(Sumber: Kemenkes, 2013)


DAFTAR PUSTAKA
.

PENGATURAN MAKAN UNTUK PASIEN HEMODIALISA


PROPOSAL PENYULUHAN
PENGATURAN MAKAN UNTUK PASIEN HEMODIALISA

Disusun sebagai salah satu tugas Praktik Kerja Lapangan 
Program Studi Diploma III Gizi

oleh:
Debi Putri Melilani
Dessy Nursetiani Rahayu








KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN BANDUNG
JURUSAN GIZI
2014

RENCANA PENYULUHAN


1.    Pelaksana Penyuluhan     :  - Debi Putri Meilani
- Dessy Nursetiani Rahayu


3.    Judul Penyuluhan              :  Pengaturan Makan untuk
                                                  Pasien Hemodialisa
4.    Tujuan                                   :
a.  Tujuan Umum
Setelah dilakukan penyuluhan diharapkan sasaran dapat mengetahui pengaturan makanan untuk pasien hemodialisa.

b.  Tujuan Khusus
                        Setelah mengikuti penyuluhan tentang pengaturan makan untuk pasien hemodialisa, diharapkan sasaran dapat :
-       Mengetahui gambaran umum hemodialisa
-       Mengetahui tujuan diet untuk pasien hemodialisa
-       Mengetahui makanan yang dianjurkan dan yang tidak dianjurkan pasien hemodialisa

5.    Sasaran                                : Pasien dan Keluarga Pasien
6.    Perencanaan tempat         : Ruang Tunggu Hemodialisa
7.    Hari dan Tanggal               : Senin, 16 Juni 2014
8.    Waktu                                    : 09.00 WIB
9.     Metode                                 : Ceramah dan tanya jawab
10.  Media                                    :  Leaflet, laptop, LCD, layar proyektor, dan microphone
11. Materi Penyuluhan
  1. Gambaran umum hemodialisa
  2. Tujuan diet untuk pasien hemodialisa
  3. Makanan yang dianjurkan dan yang tidak dianjurkan pasien hemodialisa
12. Proses Penyuluhan
No
Komunikator
Komunikan
Waktu

1.

2.

3.
Pre Interaksi
Memberi salam dan memperkenalkan diri
Menjelaskan tujuan penyuluhan dan tema penyuluhan
Memberikan soal pre-test secara lisan

Menjawab salam

Mendengarkan

Menjawab
10 menit

4.



5.
Isi
Menjelaskan materi penyuluhan mengenai pengertian, tujuan, pengaturan makan untuk pasien hemodialisa
Memberikan kesempatan kepada komunikan untuk bertanya tentang materi yang disampaikan

Mendengarkan




Mengajukan pertanyaan
20 menit

6.

7.

8.
Penutup
Memberikan soal post-test secara lisan
Menyimpulkan bersama-sama hasil kegiatan penyuluhan
Menutup penyuluhan, mengucapkan salam dan terima kasih

Menjawab

Mendengarkan

Menjawab salam
10 menit

13. Evaluasi
1.    Prosedur
Sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan, pemateri mengajukan beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh klien (pre dan post test)
2.    Jenis test
Test yang dilakukan adalah test secara lisan yang berisi beberapa pertanyaan
3.    Soal pre dan post tes


MATERI PENYULUHAN


A.     Gambaran Umum Hemodialisa

Manajemen pada pasien gagal ginjal tahap akhir salah satu terapinya adalah hemodialisia. Gagal ginjal adalah tahap akhir dari penyakit ginjal kronik yang ditandai dengan kerusakan ginjal secara permanen dan penurunan fungsi ginjal yang ireversibel, dengan GFR < 5 mL/min/1,73 m2, yang memerlukan renal replacement therapy (RRT) berupa hemodialisis atau transplantasi ginjal (Suwitra, 2006).
Hemodialisa adalah suatu proses pembersihan darah dengan menggunakan ginjal buatan (dialyzer), dari zat-zat yang konsentrasinya berlebihan di dalam tubuh. Zat-zat tersebut dapat berupa zat yang terlarut dalam darah, seperti toksin ureum dan kalium, atau zat pelarutnya, yaitu air atau serum darah (Suwitra, 2006). Kesuksesan hemodialisa tergantung pada kepatuhan pasien. Pada populasi hemodialisa, prevalensi ketidakpatuhan cairan 60%, ketidakpatuhan diet 57%, waktu dyalisis terhambat 19%, ketidakpatuhan obat 9% (Griva, 2011). Pasien hemodialisa harus membatasi asupan cairan untuk mencegah overload cairan karena overload cairan kronis dapat mengakibatkan hipertensi, akut paru edema, gagal jantung kongestif, dan prematur kematian.
Hemodialisa dapat menyebabkan beberapa komplikasi, karena penyakit yang mendasari terjadinya penyakit ginjal kronik tersebut atau oleh karena proses selama menjalani hemodialisa tersebut atau dapat disebut juga komplikasi akut hemodialisa (Rahardjo et al., 2006).
B.    Pengaturan Makanan Untuk Pasien Hemodialisa
Diet yang diberikan pada pasien dengan penurunan fungsi ginjal tahap akhir dengan terapi pengganti, jika hasil tes klien kreatinin < 15 ml/ menit.


1.     Tujuan diet untuk pasien hemodialisa
a.  Mencukupi kebutuhan zat gizi sesuai kebutuhan perorangan agar status gizi optimal.
b.  Menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit.
c.   Menjaga agar penumpukan produk sisa metabolisme protein tidak berlebihan.
d.  Pasien mampu melakukan aktifitas normal sehari-hari.

2.     Syarat diet
a.  Energi 35 kkal/kg BBI/hari
b.  Protein 1-1,2 gr/kgBBI/hari, 50% protein bernilai biologi tinggi
c.   Lemak normal, yaitu 15-30% dari kebutuhan energi total
d.  Karbohidrat cukup 55-75% dari kebutuhan energi total
e.  Natrium, yaitu 1 gram + 2 gram bila urine 1 liter/24 jam
f.    Kalium, yaitu 2 gram + 2 gram bila urine 1 liter/24 jam
g.  Cairan dibatasi, yaitu jumlah urine/24 jam ditambah 500 ml

3.  Makanan yang dianjurkan dan yang tidak dianjurkan pasien hemodialisa
a.     Bahan Makanan Dianjurkan
-     Bahan makanan sumber karbohidrat: nasi, roti putih, mie, makaroni, spageti, lontong, bihun, makanan yang dibuat dari tepung-tepungan, gula, madu, sirup, permen, dll.
-     Bahan makanan sumber protein : telur, ayam, daging, ikan, susu (Dalam jumlah sesuai anjuran).
-     Sayur-sayuran : ketimun, terung, tauge, buncis, kacang panjang, kol, kembang kol, slada, wortel, jamur, dll . (Dalam jumlah sesuai anjuran).
-     Buah-buahan : nanas, pepaya, jambu biji, sawo, pear, strawberi, apel hijau, anggur, jeruk manis, dll. (Dalam jumlah sesuai anjuran).
(Direktorat Bina Gizi Subdit Bina Gizi Klinik, 2011)
                   
b.     Bahan Makanan Tidak Dianjurkan/ Dibatasi
-     Bahan makanan tinggi kalium bila hiperkalemia : singkong, kentang, havermout, ubi, kacang tanah, kacang hijau, kacang kedelai,  bayam, daun pepaya, daun singkong, kembang kol, jantung pisang, kelapa, pisang, alpokat, apel merah, duku, durian, belimbing. nangka, coklat, santan.
-     Hindari/batasi makanan tinggi natrium jika pasien hipertensi, udema dan asites. Bahan makanan tinggi natrium diantaranya adalah garam, vetsin, penyedap rasa/kaldu kering, makanan yang diawetkan, dikalengkan dan diasinkan, minuman bersoda.
-     Air minum dan kuah sayur yang berlebihan. Tips mengendalikan air minum: masukan air kadalam botol sesuai kebutuhan sehari, mengatasi rasa haus (cobalah permen, 1 slice jeruk manis, permen, air  dingin/batu es, berkumur, atau mandi), kurangi garam, gunakan bumbu-bumbu.

c.     Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan
-     Makanlah secara teratur, porsi kecil sering.
-     Untuk membatasi banyaknya jumlah cairan, masakan lebih baik dibuat dalam bentuk tidak berkuah misalnya: ditumis, dikukus, dipanggang, dibakar, digoreng.
-     Bila ada edema (bengkak di kaki), tekanan darah tinggi, perlu mengurangi garam dan menghindari bahan makanan sumber natrium lainnya.
-     Makanan tinggi kalori seperti sirup, madu, permen, dianjurkan sebagai penambah kalori, tetapi hendaknya tidak diberikan dekat waktu makan, karena mengurangi nafsu makan.
-     Agar meningkatkan cita rasa, gunakanlah lebih banyak bumbu-bumbu seperti bawang, jahe, kunyit, salam, dll
-     Cara untuk mengurangi kalium dari bahan makanan : cucilah sayuran, buah, dan bahan makanan lain yang telah dikupas dan dipotong-potong kemudian rendamlah bahan makanan dalam air pada suhu 50-60 derajat celcius (air hangat) selama 2 jam, banyaknya air 10 kali bahan makanan. Air dibuang dan bahan makanan dicuci dalam air mengalir selama beberapa menit. Setelah itu masaklah. Lebih baik lagi jika air yang digunakan untuk memasak banyaknya 5 kali bahan makanan.
(Direktorat Bina Gizi Subdit Bina Gizi Klinik, 2011)

d.    Contoh Menu sehari
Misalnya:
Pasien (laki-laki) berusia 60 tahun, TB 165 cm, BB 55 kg.
Energi  = 35 x 55 = 1925 kkal
Protein = 1 x 55 = 55 g (11,4%)
Lemak  = 25% x 1925/9 = 53.5 g
KH        = 63,6% x 1925/4 = 306, 1 g
Menu sehari
Waktu
Menu
Jumlah
Gram
URT
Makan Pagi
Nasi
100
¾ gls
Semur telur
55
1 btr
Tumis wortel
50
½ gls
Pepaya
110
1 ptg bsr
Susu hangat
20
4 sdm
Selingan Pagi
Puding
120
1 ptg sdg
Makan Siang
Nasi
150
1 ¼ gls
Rolade daging
35
1 ptg sdg
Capcay
100
1 gls
Apel malang
75
1 bh sdg
Selingan Sore
Kue talam
50
2 bh sdg
Makan Malam
Nasi
100
¾ gls
Ayam bb kuning
40
1 ptg sdg
Sup sayuran
50
½ gls
Jeruk manis
110
1 bh bsr
Keterangan : URT = Ukuran Rumah Tangga

DAFTAR PUSTAKA

ASUHAN GIZI

. PEMERINTAH DAERAH PROVINSI...................... RSU ............................... FORMULIR CATATAN ASUH...