1.
Judul Praktikum :
Penentuan Vitamin C
Metode Iodometri
2.
Tanggal Praktikum :
Jumat,
11 Mei 2012
3.
Tujuan Praktikum :
Menentukan kadar
dari Asam askorbat berdasarkan reaksi oksidasi reduksi berdasarkan metode
iodometri-iodimetri.
4.
Prinsip
Penentuan kadar Vitamin
C secara volumetri dengan metode iodimetri berdasarkan reaksi oksidasi reduksi
antara sampel sebagai reduktor dengan larutan baku I2 0,01 N sebagai oksidator dalam suasana asam
dengan menggunakan indikator larutan kanji dengan titik akhir ditandai dengan
perubahan warna larutan dari bening menjadi biru..
5.
Reaksi :

6.
Tinjauan Pustaka :
Vitamin merupakan
mikronutrien organik esensial. Nama vitamin pertama kali digunakan bagi
mikronutrien organik spesifik yang dibutuhkan untuk mencegah penyakit
kekurangan gizi yang di sebut beri-beri, selain itu juga untuk menjegah terjadi
nya sariawan, dan lain sebagainya. Karena faktor ini mempunyai sifat-sifat
suatu arin, maka Casimir Funk,seorang ahli biokimia Polandia menyebutnya
vitamine. Kemudian setelah sejumlah mikronutrien organik esensial lainnya
ditemukan huruf “e”,ditiadakan karena ditemukan bahwa tidak semua vitamin
merupakan amin.
Asam askorbat (vitamin C)
banyak diperlukan dalam metabolisme. Sumber vitamin C adalah buah sitrun
,arbei, semangka, cabai, tomat,apel, jeruk, kol merah, dan sayur – sayuran yang
berdaun hijau. Meskipun telah diketahui sejak tahun 1970-an, bahwa suatu faktor
di dalam jeruk mencegah penyakit sariawan. Faktor tersebut belum diisolasi dan
diidentifikasi sampai tahun 1933 ,ketika C. Glenking dan Waught di Amerika
,akhirnya mengisolasi faktor anti sariawan dari sari jeruk .
Vitamin C mungkin merupakan vitamin yang larut dalam air yang paling kurang stabil. Vitamin C tahan terhadap pembekuan
Vitamin C mungkin merupakan vitamin yang larut dalam air yang paling kurang stabil. Vitamin C tahan terhadap pembekuan
Vitamin C
adalah vitamin anti-skorbat. Dijumpai dalam banyak buah-buahan, khususnya dalam
jeruk dan sayuran. Penting untuk perkembangan yang sehat bagi semua jaringan
ikat. Menambah kekebalan terhadap infek dan membantu penyembuhan luka dan
fraktur kekurangan akan vitamin ini menimbulkan pendarahan bawah kulit (Evelyn
C. Pearce, 2006 : 173).
Vitamin C
sebagai anti-oksidan selain dapat memperbaiki sel tubuh dan jaringan kulit yang
rusak akibat radikal bebas. Dalam merawat kecantikan, vitamin C memiliki peran
penting dalam melancarkan peredaran darah sehingga kulit terlihat lebih segar.
Vitamin ini juga akan merangsang pembentukan kolagen kulit dan menjaganya dari
kerusakan. Vitamin C memiliki sifat sebagai water holder (menyimpan air)
sehingga mampu menjaga kelembapan kulit dan mencegah dari kekeringan
(Wikipedia, 2010 : 1).
Asam askorbat
dinamakan pula sebagai vitamin C yang berupa Kristal putih, mempunyai rasa
asam, tidak berbau. Dalam larutan vitamin C mudah rusak, karena dioksidasi
oksigen udara, lebih stabil dalam bentuk kristal kering. Memiliki struktur yang
mirip dengan struktur monosakarida, mengandung gugus enediol yang melepaskan
hidrogren terbentuk dehidroaskorbat. Asam askorbat dan dehidroaskorbat,
kedua-duanya fisiologis aktif.
Asam askorbat
nampaknya berfungsi sebagai kofaktor di dalam hidroksida enzimatik residu
prolin pada kalogen dari jaringan pengikat vertebrata, membentuk residu
4-hidroksi-prolin. Residu hidroksi prolin ditemukan hanya pada kalogen dan
tidak ada pada protein hewan lainnya. Walaupun asam askorbat kelihatannya
berfungsi dalam pembentukan dan pertahankan komponen utama pada jaringan
pengikat hewan tingkat tinggi, tetapi masih belum dapat dipastikan bahwa fungsi
ini merupakan satu-satunya atau bahkan fungsi utama vitamin ini (Lehninger,
Albert, 1982 : 298).
Sumber vitamin
C yang baik adalah buah-buahan dan sayuran segar. Bagian buah dengan kandungan
vitamin C terbanyak adalah bagian kulitnya, kemudian bagian dagingnya dan
terakhir bagian bijinya (Hardjasasmita, Pandjita, 1991 : 91).
Kadar vitamin C yang ditetapkan secara iodimetri menggunakan
iod sebagai penitar. Vitamin C dalam Contoh bersifat reduktor kuat akan
dioksidasikan oleh I2 dalam
suasana asam dan I2 tereduksi menjadi ion iodide. Indikator yang digunakan
adalah kanji dengan titik akhir biru.
Penetapan
vitamin C dapat dilakukan dengan analisis iodometri yang merupakan reaksi
oksidasi reduksi. Kelarutan dari iodin meningkat lewat kompleksasi oleh iodida
untuk membentuk triiodida. Triiodida kemudian mengoksidasi vitamin C (C6H8O6)
menjadi asam dehidroaskorbat (C6H6O6).
Titik akhir
dari reaksi ini diindikasikan oleh reaksi dari iodin dengan larutan pati
(starch) yang akan membentuk warna biru gelap. Selama vitamin C masih terdapat
dalam larutan, triiodida secara cepat dikonversi menjadi ion iodida sehingga
tidak ada warna biru gelap yang terbentuk dari reaksi antara iodin - pati.
Namun ketika vitamin C telah dioksidasi, maka triiodida berlebih dalam
kesetimbangan dengan iodin akan membentuk warna biru gelap akibat reaksi
dengan pati.
Setelah
vitamin C habis bereaksi dengan I3- maka I3- yang
tersisa akan dititrasi dengan larutan thiosulfat seperti persamaan reaksi di
bawah ini. Penambahan pati berfungsi sebagai indikator, di mana pati akan
membentuk kompleks berwarna biru dengan I3-. Bila I3- sudah
habis bereaksi menjadi I- maka warna biru yang terbentuk akan hilang.
Vitamin C
mempunyai rumus C6H8C6 dalam bentuk murni
merupakan kristal putih, tak berwarna, tidak bau dan mencair pada suhu 190-1920C.
Senyawa ini bersifat reduktor kuat dan mempunyai rasa asam. Sifat yang
paling utama dari vitamin C adalah kemampuan mereduksi yang kuat dan mudah teroksidasi
yang dikatalis oleh beberapa logam terutama Cu dan Ag (Patricia, 1983).
Penetapan
vitamin C ini dilakukan dengan metode titrasi Iodimetri yaitutitrasi dengan I2 sebagai titernya. Iodimetri merupakan titrasi
langsung dan merupakan metoda penentuan ataupenetapan kuantitatif yang dasar
penentuannya adalah jumlah I2 yang
bereaksidengan sampel atau terbentuk dari hasil reaksi antara sampel dengan ion
iodide.Iodimetri adalah titrasi redoks dengan I2 sebagai pentiternya. Dalam reaksi
redoks harus selalu ada oksidator
dan reduktor , sebab bila suatu unsur bertambah bilanganoksidasinya (melepaskan
electron), maka harus ada suatu unsur yang bilanganoksidasinya berkurang atau
turun (menangkap electron). Jadi, tidak mungkin hanyaada oksidator saja ataupun
reduktor saja (Wiryawan dkk,
2008)..Dalam metode analisis ini, sampel dioksidasikan
oleh I2, sehingga I2 tereduksi
menjadi ion iodida.
Iodium merupakan
oksidator lemah, sehingga hanyaz at-zat
yang merupakan reduktor kuat yang dapat dititrasi.I ndikator yang digunakan yaitu amilum
sebanyak 2 mL dan akan memberikan
warna biru pada titik akhir titrasi. Dengan
kontrol pada titik akhir titrasi jika kelebihan 1 tetes titran, perubahan warna yang terjadi pada
larutan akan semakin jelas dengan penambahan indikator amilum/kanji (Basset,
1994). Iod merupakan zat
padat yang sukar larut dalam air (0,00134 mol/L) padasuhu 250C, namun sangat larut
dalam larutan yang mengandung ion iodida. Iodiummembentuk
kompleks triiodida dengan iodida
Larutan iodium merupakan larutan yang tidak stabil, sehingga perludistandarisasi
berulang kali. Sebagai Oksidator lemah, iod tidak dapat bereaksiterlalu
sempurna, karena itu harus dibuat kondisi yang menggeser kesetimbangankearah
hasil reaksi antara lain dengan mengatur pH atau dengan menambahkanbahan
pengkompleks.
Titrasi dilakukan dengan menggunakan amilum sebagai indicator
dimana titik akhir titrasi diketahui
dengan terjadinya kompleks amilum-I2 yang berwarna biru tua.Hal ini
disebabkan karena dalam larutan pati, terdapat unti-unit glukosa membentuk
rantai heliks karena adanya ikatan konfigurasi pada tiap unit glukosanya.
Bentuk ini menybabkan pati dapat membentuk kompleks dengan molekul iodium yang
dapat masuk ke dalam spiralnya., sehingga menyebabkan warna biru tua pada
kompleks tersebut. Warna biru akan terlihat bila konsentrasi ios 2 X 10-5M. Sensitivitas warnanya tergantung pada
pelarut yang digunakan. Kompleks iodium-amilum mempunyai
kelarutan kecil dalam air sehingga biasanya
ditambahkan pada titik akhir reaksi (Khopkar, 2002).
7.
Alat dan Bahan :
Alat: Bahan:
- Gelas arloji - Jambu biji
- Spatula - Larutan standar vitamin C
- Gelas kimia - Iodium 0,01 N
- Batang pengaduk - Amilum 1%
- Labu seukuran 100 ml - Akuades
- Corong
- Pipet
- Gelas ukur
- Erlenmeyer
- Buret (statif dan klem
buret)
8.
Prosedur Praktikum :
1.
Timbang 300 gram bahan, hancurkan dalam waring blender
sampai diperoleh slurry.
2.
Timbang 10-30 gram slurry
masukkan ke dalam labu seukuran 100 ml, tambahkan aquades sampai tanda batas,
kocok.
3.
Saring dengan menggunakan kertas saring.
4.
Ambil 25 ml filtrate ddengan pipet dan masukkan ke
dalam Erlenmeyer.
5.
Tambahkan 2 ml amilum 1% tambahkan 20 ml aquades bila
perlu.
6.
Titrasi dengan larutan standar iodium 0,01 N.
9.
Hasil Praktikum dan Perhitungan :


= 11,5 x 0,176 x 0,04998 x 0,004
= 0, 4046
=4,05 x 10-4
10.
Pembahasan Hasil
:
Dari hasil praktikum didapatkan
kadar vitamin C pada jambu biji sebesar 4,05 x 10-4 mg. Hasil itu
didapatkan dengan titrasi slurry
jambu biji dengan titer Iodium 0,01 N sebanyak 13,8 ml. Sedangkan untuk titrasi
standarnya yaitu sebesar 1,2 ml.
Vitamin
C adalah nutrien dan vitamin yang larut dalam air dan
penting untuk kehidupan serta untuk menjaga kesehatan. Vitamin ini juga dikenal
dengan nama kimia dari bentuk utamanya yaitu asam askorbat. Vitamin C
termasuk golongan antioksidan karena sangat mudah teroksidasi oleh panas,
cahaya, dan logam. Vitamin C dapat ditemukan pada sayur dan buah-buahan.
Kelebihan vitamin C akan dikeluarkan melalui urine, sedangkan kekurangan
vitamin ini akan menyebabkan penyakit sariawan atau askorbut dengan gejala
pendarahan disekitar gusi, gigi, usus, menurunnya jumlah sel darah merah dan
kerusakan sumsum.
Penentuan
kadar vitamin C dalam tablet atau dalam sari buah dapat ditentukan melalui
titrasi. Jenis titrasi yang digunakan termasuk dalam titrasi iodometri. Titrasi
iodometri yaitu titrasi tidak langsung dimana oksidator yang dianalisis
kemudian direaksikan dengan ion Iodida berlebih dalam keadaan yang sesuai yang
selanjutnya iodium dibebaskan secara kuantatif dan dititrasi dengan larutan
standar atau asam. Titrasi Iodometri ini termasuk golongan titrasi redoks yang
mengacu pada transfer elektron. Titrasi iodometri dapat dibedakan menjadi
titrasi langsung dan titrasi tidak langsung. Titrasi langsung merupakan titrasi
yang menggunakan alat sebagai titrat atau titran. Sementara itu pada titrasi
tak langsung, alat tidak langsung terlibat dalam tahap titrasi (Harjadi 1986).
Sebenarnya,
titrasi ini dapat dilakukan tanpa indikator karena warna iodin yang ditritasi
akan lenyap bila titik akhir tercapai. Warna yang terjadi ialah coklat tua
menjadi lebih muda, lalu kuning, kuning muda, sampai warna benar-benar lenyap.
Namun untuk lebih mudahnya, ditambahkan amilum sebagai indikator. Amilum dapat
membentuk kompleks berwarna biru tua bila bereaksi dengan iodin. Penambahan
amilum dilakukan saat mendekati titik akhir titrasi yaitu saat warna menjadi
kekuningan. Reaksi kimia yang terjadi saat titrasi berlangsung lambat dalam
larutan netral tetapi lebih cepat dalam larutan berasam. Berdasarkan data hasil
percobaan dapat diketahui bahwa
Hasil
yang didapat tidak terlepas oleh adanya berbagai kesalahan yang mungkin
terjadi. Kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi antara lain kurang akurat
yang dipengaruhi oleh adanya kesalahan oksigen. Adanya oksigen di udara dapat
menyebabkan hasil titrasi terlalu tinggi karena dapat mengoksidasi ion iodida
menjadi iodin. Selain itu, pH tinggi dapat menyebabkan bereaksinya iodin dengan
air sehingga menyebabkan penggunaan larutan tiosulfat menjadi menurun.
Kesalahan
lain yang terjadi saat praktikum adalah kurang teliti dalam pembacaan buret,
sehingga mempengaruhi volume terpakai untuk mentitrasi tersebut. Selain itu
blanko yang harusnya menjadi patokan warna tak dapat menjadi pembanding untuk
kedua sampel yang digunakan karena hasilnya berlainan. Ataupun pemberian amilum
yang terlalu awal juga dapat mempengaruhi hasil secara signifikan.
11.
Kesimpulan :
Dari hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa volume
titrasi sampel lebih besar daripada volume titrasi standar. Volume iodium 0,01
N titrasi sampel yaitu sebanyak 13,8 ml. Sedangkan, untuk volume iodium 0,01 N
titrasi stnadar yitu sebanyak 1,2 ml. Dari hasil titrasi tersebut didapatkan
kadar vitamin C pada jambu biji sebesar 4,05 x 10-4 Hasil ini jauh
dari standar kadar vitamin C pada jambu biji yang sebenarnya. Hal ini
dikarenakan danya perbadaan mengenai warna titrasi akhir yang seharusnya yaitu
biru tua, selain itu bias juga dari hilangnya kadar I2 saat titrasi.
Iodium ini memiliki sifat capat menguap di udara bebas. Oleh karena itu,
titrasi harus dilakukan dengan tetesan cepat dan goyangan lambat.
12.
Daftar
Pustaka :
Winarno, F. G. 1991. Kimia Pangan dan Gizi.
Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
No comments:
Post a Comment