Uji Kadar Glukosa dalam Darah
jurnal ini dibuat untuk memenuhi tugas praktikum mata kuliah biokimia
![]() |
Nama Kelompok
oleh
Nanda Amelia Ghaisani P17331111004
Dessy Nursetiani Rahayu P17331111025
KEMENTRIAN
KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK
KESEHATAN BANDUNG
JURUSAN GIZI
2012
1.
Judul Praktikum :
UjiKadar GlukosadalamDarah
2.
Tanggal Praktikum :
Kamis, 27 September 2012
3.
Tujuan Praktikum :
a.
Umum :
Melakukandeteksikarbohidratberdasarkankadarglukosadarahdenganbenar.
Melakukandeteksikarbohidratberdasarkankadarglukosadarahdenganbenar.
b.
Khusus :
1. Menjelaskanprinsippenentuankadarguladarah.
2. Mengetahuireaksi yang terjadipadapenentuankadarguladarah.
3. Mengetahuialat yang dipakaipadapenentuankadarguladarah.
4. Mempersiapkanbahan yang diperlukanuntukpenentuankadarguladarah.
5. Memahamiprosedurpenentuankadarguladarahdenganbenar.
1. Menjelaskanprinsippenentuankadarguladarah.
2. Mengetahuireaksi yang terjadipadapenentuankadarguladarah.
3. Mengetahuialat yang dipakaipadapenentuankadarguladarah.
4. Mempersiapkanbahan yang diperlukanuntukpenentuankadarguladarah.
5. Memahamiprosedurpenentuankadarguladarahdenganbenar.
6. Melakukanujikadarguladarahdenganbenar.
7.
Menginterpretasikanhasildaripenentuankadarguladarah.
8. Membuatsimpulandan saran darihasilpraktikum.
4.
Prinsip
Sampeldarahmengalirkedalamzonareaksi,
setelahpemisahaneritrositdari plasma.d-glukosadioksidasimenjadi
δ-d-gluconolactoneolehoksigendenganadanyaenzimoksidase glucose (GOD). Hydrogen
peroksida (H2O2) yang dihasilkanmengoksidasi indicator
denganadanyaenzimperoksidase (POD) membentukwarna (dye).Pewarna yang
terbentukdengancarainiadalahsebandingdengankonsentrasiglukosasampel.
5.
|
Reaksi:
|


Pada λ 642 nm, T: 37oC, t: 125 dtk, satuan
mg/dl ataummol/liter
6.
Tinjauan Pustaka:
Metabolismeoksidatifglukosamenghasilkansebagianbesarenergi
yang digunakandalamtubuh.Glukosaadalahsuatugulaenam-karbon yang
sederhana.Glukosadalammakanansebagianbesarterdapatdalambentukdisakarida.Metabolismeglukosamenghasilkanasampiruvat,
asamlaktat, danasetilkoenzimAsebagaisenyawa-senyawaantara. Oksidasilengkapglukosamenghasilkankarbondioksida,
air, danenergi yang disimpansebagaisenyawafosfatberenergitinggiadeonintrifosfat
(ATP).Apabilatidaksegeradimetabolisasiuntukmenghasilkanenergi,
glukosadapatdisimpan di hatiatauototsebagaiglikogen, suatupolimer yang terdiridaribanyakresiduglukosadalambentuk
yang dapatdibebaskandandimetabolisasisebagaiglukosa (Ronald A. et al 2002).
Glukosa terbentuk dari
karbohidrat dalam makanan dan disimpan sebagai glikogen dalam hati dan otot
rangka. Kadar glukosa dipengaruhi oleh 3 macam hormon yang dihasilkan oleh
kelenjar pankreas. Hormon-hormon itu adalah : insulin, glukagon, dan
somatostatin.
Insulin dihasilkan oleh
sel-sel β, mendominasi gambaran metabolik. Hormon ini mengatur pemakaian
glukosa melalui banyak cara : meningkatkan pemasukan glukosa dan kalium ke
dalam sebagian besar sel; merangsang sintesis glikogen di hati dan otot;
mendorong perubahan glukosa menjadi asam-asam lemak dan trigliserida; dan
meningkatkan sintesis protein, sebagian dari residu metabolisme glukosa. Secara
keseluruhan, efek hormone ini adalah untuk mendorong penyimpanan energi
danmeningkatkanpemakaianglukosa.
Glukagon dihasilkan oleh
sel-sel α, meningkatkan sintesis protein dan menstimulasi glikogenolisis
(pengubahan glikogen cadangan menjadi glukosa) dalam hati; ia membalikkan
efek-efek insulin. Somatostatin dihasilkan oleh sel-sel delta, menghambat
sekresi glukagon dan insulin; hormone ini juga menghambat hormone pertumbuhan
dan hormone-hormon hipofisis yang mendorong sekresi tiroid dan adrenal.
Saat setelah makan atau
minum, terjadi peningkatan kadar gula darah yang merangsang pankreas
menghasilkan insulin untuk mencegah kenaikan kadar gula darah lebih lanjut.
Insulin memasukkan gula ke dalam sel sehingga bisa menghasilkan energi atau
disimpan sebagai cadangan energi. Adanya kelainan sekresi insulin, kerja
insulin, atau kombinasi keduanya, akan berpengaruh terhadap konsentrasi glukosa
dalam darah.
Penurunan kadar glukosa
darah (hipoglikemia) terjadi akibat asupan makanan yang tidak adekuat atau
darah terlalu banyak mengandung insulin. Peningkatan kadar glukosa darah
(hiperglikemia) terjadi jika insulin yang beredar tidak mencukupi atau tidak
dapat berfungsi dengan baik; keadaan ini disebut diabetes mellitus. Apabila
kadar glukosa plasma atau serum sewaktu (kapan saja, tanpa mempertimbangkan
makan terakhir) sebesar ≥ 200 mg/dl, kadar glukosa plasma/serum puasa yang
mencapai > 126 mg/dl, dan glukosa plasma/serum 2 jam setelah makan (post
prandial) ≥ 200 mg/dl biasanya menjadi indikasi terjadinya diabetes
mellitus.
Kadar glukosa puasa
memberikan petunjuk terbaik mengenai homeostasis glukosa keseluruhan, dan
sebagian besar pengukuran rutin harus dilakukan pada sampel puasa. Keadaan-keadaan
yang dapat mempengaruhi kadar glukosa (mis. diabetes mellitus, kegemukan,
akromegali, penyakit hati yang parah, dsb.) mencerminkan kelainan pada berbagai
mekanisme pengendalian glukosa.
Uji gula darah post prandial
biasanya dilakukan untuk menguji respons penderita terhadap asupan tinggi
karbohidrat 2 jam setelah makan (sarapan pagi atau makan siang).Untuk
kasus-kasus hiperglikemia atau bahkan hipoglikemia yang tak jelas, biasanya
dilakukan tes
toleransi glukosa oral (TTGO). TTG oral dipengaruhi oleh
banyak variable fisiologik dan menjadi subjek dari bahan interpretasi
diagnostik yang berbeda-beda. Uji toleransi glukosa intravena jarang diindikasikan
untuk tujuan diagnosis.
Dahulupengukuranglukosadarahdilakukanterhadapdarahlengkap,
tetapisekarangsebagianbesarlaboraturiummelakukanpengukurankadarglukosadalam
serum. Karenaeritrositmemilikikadar protein (yaitu hemoglobin) yang
lebihtinggidaripada serum, serum memilikikadar air yang
lebihtinggisehinggabiladibandingkandengandarahlengkap serum
melarutkanlebihbanyakglukosa. Untukmengubahglukosadarahlengkap, kalikannilai
yang diperolehdengan 1,15untukmenghasilkankadarglukosa serum atau plasma.
Pengumpulan darah dalam
tabung bekuan untuk analisis serum memungkinkan terjadinya metabolisme glukosa
dalam sampel oleh sel-sel darah sampai terjadi pemisahan melalui pemusingan
(sentrifugasi). Jumlah sel darah yang tinggi dapat menyebabkan glikolisis yang
berlebihan sehingga terjadi penurunan kadar glukosa. Untuk mencegah glikolisis
tersebut, serum harus segera dipisahkan dari sel-sel darah.
Suhu lingkungan tempat darah
disimpan sebelum diperiksa turut mempengaruhi tingkat glikolisis. Pada suhu
kamar, diperkirakan terjadi penurunan kadar glukosa 1-2% per jam. Sedangkan
pada suhu lemari pendingin, glukosa tetap stabil selam beberapa jam di dalam
darah.Penambahan natrium fluoride (NaF) pada sampel darah dapat menghambat
glikolisis sehingga kadar glukosa dapat dipertahankan bahkan dalam suhu kamar.
Pengambilan darah harus
dilakukan pada lengan yang berlawanan dengan lengan tempat pemasangan selang
IV. Pengambilan darah pada lengan yang terpasang selang IV dapat dilakukan
asalkan aliran selang dihentikan paling tidak selama 5 menit dan lengan
diangkat untuk mengalirkan cairan infuse menjauhi vena-vena. Pencemaran 10%
oleh cairan dextrose 5% (D5W) dapat meningkatkan kadar glukosa dalam sampel
sebesar 500 mg/dl atau lebih.
Darah arteri, vena, dan
kapiler memiliki kadar glukosa yang setara pada keadaan puasa, sedangkan
setelah makan, kadar vena lebih rendah daripada arteri atau kapiler.Untuk uji
glukosa darah puasa, penderita diminta berpuasa selama 10 jam sejak malam
sebelum diambil darah (misalnya mulai puasa jam 9 malam). Selama berpuasa
penderita tidak boleh melakukan akitifitas fisik yang berat, tidak boleh
merokok, dan tetap diperbolehkan minum air putih. Pagi hari setelah puasa
(misalnya jam jam 8 pagi), penderita diambil darah vena 3-5 ml dikumpulkan
dalam tabung bertutup merah (tanpa antikoagulan) atau dalam tabung tutup
abu-abu (berisi NaF). NaF digunakan untuk mencegah glikolisis yang dapat
mempengaruhi hasil laboratorium. Penderita diminta untuk makan dan minum
seperti biasa, lalu puasa lagi selama 2 jam. Selama berpuasa penderita tidak
boleh melakukan akitifitas fisik yang berat, tidak boleh merokok, dan tetap
diperbolehkan minum air putih.
Untuk uji glukosa post
prandial, penderita diambil darah vena sebanyak 3-5 ml tepat dua jam setelah
makan, dan dikumpulkan dalam tabung bertutup merah (tanpa antikoagulan) atau
dalam tabung tutup abu-abu (berisi NaF). Darah yang telah diperoleh
disentrifus, kemudian serum atau plasmanya dipisahkan dan diperiksa kadar
glukosa.Untuk uji glukosa darah sewaktu atau acak/random, penderita tidak perlu
puasa dan pengambilan dapat dilakukan di sembarang waktu.
Terdapatduametodologiutamaberbeda
yang telahdigunakanuntukmengukurglukosa.Metodologi lama adalahmetodologikimiawi
yang memanfaatkansifatmereduksiglukosa yang nonspesifikdalamsuatureaksidenganbahanindikator
yang memperolehatauberubahwarnaapabilatereduksi.Karenasenyawa-senyawa lain yang
adadalamdarahjugadapatmereduksi (misal, urea, yang
dapatmeningkatcukupbermaknapada uremia), denganmetodereduksi,
kadarglukosadapatlebihtinggi 5 sampai 15
mg/dLlebihakuratdibandingkankadarglukosa yang diperolehdenganmetodeenzimatik
(yang lebihspesifikuntukglukosa).
Metode-metodeenzimatikiniumumnyamenggunakanenzimglukosaoksidaseatauheksokinase,
yang bekerjapadaglukosa, tetapitidakpadagula lain dantidakpadabahanpereduksilain(Ronald
A. et al 2002).
Perubahanenzimatikglukosamenjadiproduk,
sekarangdikuantifikasipadaautomated chemistry analyzer berdasarkansuaturaksiperubahanwarnasebagaireaksiterakhirdariserangkaianreaksikimiaatauberdasarkankonsumsioksigenpadasuatuelektrodapendeteksioksigen.Denganmelakukanbeberapapengukurandalamwaktubeberapamenit, chemistry analyzer (mesinpenganalisiskimiawi) modern
dapatmenghitunglajureaksi, yang
setaradengankonsentrasiglukosa.Analisiskinetikinisecarateknislebihdisukaidaripadaanalisistitikakhir,
yang hanyamengukurjumlahprodukakhir.Secaraumum, untukbanyakpengukurankimiawi,
biasanyaanalisiskinetiklebihbaikdaripadaanalisistitikakhirkarenawaktu yang
diperlukanuntukmasing-masingpengukuranlebihsingkatdanjugakarenainterferensi
yang terjadipadaanalisistitik-akhirdapatdiatasidenganpengukuranlajureaksi.
Dahulu, glukosa diperiksa
dengan memanfaatkan sifat mereduksi glukosa yang non spesifik dalam suatu
reaksi dengan bahan indikator yang memperoleh atau berubah warna jika
tereduksi. Karena banyak jenis pereduksi lain dalam darah yang dapat bereaksi
positif, maka dengan metode ini kadar glukosa bisa lebih tinggi 5-15 mg/dl.
Sekarang, pengukuran glukosa
menggunakan metode enzimatik yang lebih spesifik untuk glukosa. Metode ini
umumnya menggunakan enzim glukosa oksidase atau heksokinase, yang bekerja hanya
pada glukosa dan tidak pada gula lain dan bahan pereduksi lain. Perubahan
enzimatik glukosa menjadi produk dihitung berdasarkan reaksi perubahan warna
(kolorimetri) sebagai reaksi terakhir dari serangkaian reaksi kimia, atau
berdasarkan konsumsi oksigen pada suatu elektroda pendeteksi oksigen. Chemistry analyzer (mesin penganalisis kimiawi) modern
dapat menghitung konsentrasi glukosa hanya dalam beberapa menit.
Di luar laboratorium,
sekarang banyak tersedia berbagai merek monitor glukosa pribadi yang dapat
digunakan untuk mengukur kadar glukosa darah dari tusukan di ujung jari. Alat
ini cukup bermanfaat untuk mengetahui kadar glukosa darah dan untuk menyesuaikan
terapi. Namun, alat ini memiliki kekurangan dimana hasil pengukuran terpengaruh
oleh kadar hematokrit dan juga protein serum; kadar hematokrit yang rendah
dapat meningkatkan secara semu kadar glukosa darah, dan sebaliknya (efek serupa
juga berlaku untuk protein serum yang rendah atau tinggi). Oleh sebab itu,
penderita harus secara berkala membandingkan hasil pengukuran alatnya dengan
pengukuran glukosa laboratorium klinik (baku emas) untuk memperkirakan
kemungkinan interferensi fisiologik serta fluktuasi fungsi alat mereka.
Nilai Rujukan :
Nilai Rujukan :
- Gula darah sewaktu
Dewasa : Serum dan plasma : sampai dengan 140 mg/dl; Darah lengkap : sampai dengan 120 mg/dl
Anak :
sampai dengan 120 mg/dl
Lansia : Serum dan plasma : sampai dengan 160 mg/dl; Darahlengkap : sampai dengan 140 mg/dl.
- Gula darah puasa
Dewasa : Serum dan plasma : 70 – 110 mg/dl; Darah lengkap : 60 – 100 mg/dl; Nilai panik : kurang dari 40 mg/dl dan > 700
mg/dl
Anak : Bayi baru lahir : 30 – 80 mg/dl; Anak : 60 – 100 mg/dl
Lansia :
70 – 120 mg/dl.
- Gula darah post
prandial
Dewasa : Serum dan plasma : sampai dengan 140 mg/dl; Darah lengkap : sampai dengan 120 mg/dl
Anak :
sampai dengan 120 mg/dl
Lansia : Serum dan plasma : sampai dengan 160 mg/dl; Darah lengkap : sampai dengan 140 mg/dl.
Masalah Klinis
Peningkatan kadar (hyperglycaemia) : diabetes
mellitus, asidosis diabetik, hiperaktivitas kelenjar adrenal (sindrom Chusing),
akromegali, hipertiroidisme, kegemukan (obesitas), feokromositoma, penyakit
hati yang parah, reaksi stress akut (fisik atau emosi), syok, kejang, MCI akut,
cedera tabrakan, luka bakar, infeksi, gagal, ginjal, hipotermia aktifitas,
pankreatitis akut, kanker pankreas, CHF, sindrom pasca gastrektomi (dumping
syndrome), pembedahan mayor. Pengaruh obat : ACTH; kortison; diuretik (hidroklorotiazid,
furosemid, asam etakrinat); obat anestesi, levodopa.
Penurunan kadar (hypoglycaemia) : reaksi
hipoglikemik (insulin berlebih), hipofungsi korteks adrenal (penyakit Addison),
hipopituitarisme, galaktosemia, pembentukan insulin ektopik oleh tumor/kanker
(lambung, hati, paru-paru), malnutrisi, ingesti alkohol akut, penyakit hati
yang berat, sirosis hati, beberapa penyakit penimbunan glikogen, hipoglikemia
fungsional (aktifitas berat), intoleransi fruktosa herediter, eritroblastosis
fetalis, hiperinsulinisme. Pengaruh obat : insulin yang berlebih, salisilat,
obat antituberkulosis.
Faktor yang Dapat
Mempengaruhi Hasil Laboratorium
·
Obat-obatan (kortison, tiazid, “loop”
diuretik) dapat menyebabkan peningkatan kadar gula darah.
·
Trauma, stress dapat menyebabkan peningkatan
kadar gula darah.
·
Penundan pemeriksaan serum dapat menyebabkan
penurunan kadar gula darah.
·
Merokok dapat meningkatkan kadar gula darah
serum.
·
Aktifitas yang berat sebelum uji laboratorium
dilakukan dapat menurunkan kadar gula darah.
7.
Alat dan Bahan:
Alat : Bahan :
Reflotron Sampeldarah
Pipetkapilet Tes strip reflotron
Lancet Alkohol 70%
Softclick
Kapas
8.
Prosedur Praktikum:
1.
Bersihkanjaritangan yang
akandilukaidengankapasberalkohol 70%.
2.
Lukaijaritangandengan lancet soft click.
3.
Usapdarahpertama yang keluardengankapas.
4.
Ambilsampeldarahdengan pipet reflotronsampai
volume specimen untukaplikasi 30 µl (hindariterjadigelembung).
5.
Teteskansampeldarahke strip
tespadazonaaplikasimerah (xx), berhati-hatiuntuktidakmenyentuhzonaaplikasidenganujung
pipet.
6.
Masukantes strip padaalatbacarelotron.
9.
HasilPraktikumdan
Perhitungan :
Kadar
GlukosadalamDarah
Bukan DM
|
BelumPasti
|
DM
|
||
GDPP
|
Plasma Vena
|
< 100 mm/dl
|
100-199 mm/dl
|
> 200 mm/dl
|
DarahKapiler
|
< 90 mm/dl
|
90-199 mm/dl
|
> 200 mm/dl
|
|
GDP
|
Plasma Vena
|
< 100 mm/dl
|
100-125 mm/dl
|
> 126 mm/dl
|
DarahKapiler
|
< 90 mm/dl
|
90-99 mm/dl
|
> 100 mm/dl
|
KELOMPOK
|
GULA DARAH
|
1
|
72 mg/dl
(Puasa) Dessy
|
2
|
122 mg/dl (Tidak Puasa) Gina
|
3
|
71 mg/dl
(Puasa) Fitri
|
4
|
65 mg/dl (Tidak
Puasa) Lanny
|
5
|
94 mg/dl (Tidak
Puasa) Ahsanil Fikri
|
10.
PembahasanHasil :
Pada praktikum kali ini kami melakukan uji
kadar glukosa dalam darah. Dari hasil praktikum,
dapatdiamatibahwakadarglukosadarahsampelberkisarpadaangka72 mg/dl - 122 mg/dl. Kadar glukosadarahitu pun bervariasidarisampel
yang melakukanpuasadan yang tidakmelakukanpuasa.Sampel yang melakukanpuasa 10 –
12 jam memilikikadarglukosa71 mg/dl dan 72 mg/dl. Sedangkansampel yang
tidakmelakukanpuasamemilikikadarglukosa122 mg/dl, 65 mg/dl, dan94 mg/dl. Umumnya, kadarglukosa orang yang
tidakberpuasalebihtinggidibandingkandengankadarglukosa orang yang berpuasa. Hal
inidapat
diindikasikan homeostasis glukosa secara keseluruhan, terutama asupan makanan yang diperoleh oleh tubuh
berkurangdibandingkan dengan yang tidak puasa. Orang yang tidakberpuasakadar
gula darahnya jauh lebih tinggi dan
dapat memicu konsentrasi insulin tinggi sedangkan konsentrasi glukagon
rendah.Dalam hal ini berhubungan dengan plasma darah yang memiliki fungsi sebagai medium
perantara untuk penyaluran makanan, mineral, lemak, glukose dan asam amino
kejaringan. Begitu juga dengan medium mengangkat bahan buangan seperti urea,
asam urat dan karbondioksida.
Untuk data kadarglukosa, kelompok2 dankelompok5 yang tidakberpuasakadarglukosanyamemanglebihtinggidarikadarglukosakelompok1dankelompok3 yang berpuasa. Akan tetapi, sampeldarikelompok4, kadarglukosanyalebihrendahdari yang tidakberpuasa.
Hal inibisadikarenakansampel
di kelompok4memilikihipoglikemia
(kadarguladarahrendah). Selainitu, kadarguladarahjugadapatdipengaruhiolehumur,
hormon, proporsitubuh (beratbadandantinggibadan), tingkat stress,
danjeniskelamin.
11.
Kesimpulan :
Dari hasilpraktikum,
dapatdisimpulkanbahwakadarglukosadalamdarahuntuksemuakelompokadalah normal, meskipun ada salah satu kelompok yang kadar
gulanya 122 mg/dl tetapi hal ini belum pasti terkena diabetes mellitus dan
masih dianggap normal. Kelompok 1 memilikikadarglukosa 72 mg/dl, kelompok 2 sebesar122 mg/dl, kelompok 3 sebesar 71 mg/dl, kelompok 4 sebesar65 mg/dl, dankelompok 5 sebesar94 mg/dl. Hal iniberarti,
sampelpadakelompok 1 sampaikelompok 5 tidakberisikoterserang diabetes mellitus.
12.
Daftar Pustaka :
No comments:
Post a Comment